Selasa, 06 September 2011

Sikat Gigi Aman

Di mana Anda menyimpan sikat gigi? Wastafel kamar mandi? Sebenarnya tidak ada yang salah dengan meletakkan sikat gigi di wastafel. Namun, jika wastafel berdekatan dengan kloset, itu yang menjadi masalah.    Menurut pakar biologi Universitas Arizona, Amerika Serikat, ada sekitar 3,2 juta bakteri di setiap 2,5 cm2 kloset. Wow! Ketika Anda menyiramkan air ke dalam kloset, maka udara yang menyembur akan terbawa hingga 1,8 meter ke area sekitarnya. Artinya, lantai, wastafel dan bahan sikat gigi Anda pun bisa tercemar bakteri.
    Ingin menjaga sikat gigi selalu bersih? Caranya, bersihkan dengan air mengalir sebelum digunakan dan simpan di tempat tertutup atau kotak obat di belakang cermin kamar mandi.

sumber: KOMPAS

Jangan Sikat Gigi Setelah Ngopi

Meski kita tahu bahwa sisa makanan yang menempel di gigi bisa memicu bakteri namun bukan berarti setiap habis makan kita harus segera menyikat gigi. Kapan perlu menyikat gigi hal itu sangat tergantung pada apa yang baru kita makan atau minum.
Setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang tinggi kandungan asamnya, seperti kopi, buah yang rasanya asam, atau softdrink sebaiknya Anda berkumur dulu untuk menetralisir kadar asam. Tunggulah sampai satu jam sebelum menyikat gigi.
"Jika langsung menyikat gigi setelah minum minuman berkarbonasi atau makanan yang asam, gigi bisa erosi," kata Meinecke, juru bicara Academy of General Dentistry.
Sementara itu menyikat gigi dianjurkan 20 menit setelah makan karena pada saat ini tingkat keasaman ludah sudah kembali normal. Ketika makan, pH akan turun dari yang normalnya 6,8 menjadi 4.
Namun, secara perlahan-lahan, pH-nya akan naik kembali dalam waktu sekitar 20 menit. Jika terburu-buru menyikat gigi struktur saliva akan rusak, padahal salah satu fungsi air ludah adalah penyeimbang dan membantu proses pencernaan.

sumber: KOMPAS

10 Kesalahan Saat Menyikat Gigi

Menyikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung sodium fluoride dan zinc citrate bisa membantu kurangi 8 masalah gigi dan mulut.
Bagaimana kebiasaan Anda menyikat gigi? Sudah melakukan saran dokter untuk menyikat gigi minimal 2 kali dalam sehari? Tak lupa menyikat lidah pula? Ya, Anda bisa saja percaya diri sudah membersihkan gigi dengan baik dan sesuai aturan. Tetapi kadang, ada saatnya Anda lalai dan menganggap hal-hal sepele tidak akan bermasalah pada gigi kuat Anda. Padahal, hal-hal kecil pun bisa mendatangkan masalah di seputar mulut. Apa sajakah?

1. Tidak Menggunakan Sikat Gigi yang Tepat
Jika Anda perhatikan, ada berbagai ukuran sikat gigi ada banyak ragamnya. Richard H Price, DMD, penasihat American Dental Association (ADA) mengatakan, "Jika Anda harus membuka rahang cukup besar untuk membiarkan gagang sikat masuk ke dalam mulut, bisa jadi sikat gigi terlalu besar untuk Anda. Gagangnya pun harus nyaman digenggam, sensasinya harus senyaman saat Anda memegang garpu saat makan. Semakin nyaman sikat gigi Anda, makin sering Anda akan menggunakannya dengan benar."

2. Memilih Bulu Sikat yang Salah
Ada beberapa tipe sikat pada sikat gigi. Ada yang memiliki sudut menyempit, ada yang rata, ada yang pakai karet. Apakah ada satu tipe yang lebih baik? Menurut para dokter gigi di WebMD, tak ada pengaruh lebih. Tampaknya, yang lebih penting adalah teknik membersihkannya ketimbang bentuk sikatnya. Para dokter gigi ADA menyarankan agar memilih sikat yang lembut, jangan yang kasar atau kaku karena bisa merusak/menyakiti gusi. Carilah bulu sikat yang cukup kaku untuk mengangkat plak, tetapi tidak cukup kuat untuk merusak gigi. 

3. Kurang Sering atau Kurang Lama
Selama ini kita disarankan untuk menyikat gigi setidaknya 2 kali sehari. Namun menurut para dokter di WebMD, tiga kali dalam sehari adalah yang terbaik. Ketika jarak waktu menyikat gigi terlalu jauh, plak bakteri akan menumpuk, bisa membuat radang gusi dan masalah lain pada mulut. Disarankan untuk menyikat gigi setidaknya 2 menit setiap kali, akan lebih baik lagi jika dilakukan selama 3 menit. Angka waktu tersebut sebenarnya tidak terlalu penting, namun dipatok agar kita bisa mempunyai waktu yang cukup untuk membersihkan permukaan gigi.

4. Menyikat Gigi Terlalu Keras atau Terlalu Sering
Seperti disebutkan, menyikat gigi 3 kali dalam sehari memang ideal. Namun, jika terlalu sering, bisa jadi kompulsif. Terlalu sering menyikat gigi, misal 4 kali dalam sehari, bisa membuat akar gigi teriritasi dan menyakiti gusi. Menyikat terlalu keras juga bisa merusak enamel (lapisan teratas gigi). Cara terbaik adalah menyikat gigi secara perlahan dan lembut selama 2-3 menit.

5. Tidak Menyikat dengan Benar
Buat sudut 45 derajat dari garis gusi dan buat gerakan pendek-pendek saat menyikat. Gerakan menyikat panjang di sepanjang garis gusi bisa menyebabkan abrasi pada gusi. Sikatlah perlahan ke arah atas dan bawah dari gigi, jangan dengan gerakan menyamping pada gigi. Buat gerakan sirkular vertikal, jangan horizontal. Lakukan pada bagian permukaan gigi bagian depan, belakang, atas dan bawah serta pada lidah.

6. Selalu Memulai Pada Titik yang Sama
Kebanyakan orang akan memulai pada titik yang sama setiap kali akan mulai menyikat gigi. "Mulailah di tempat-tempat yang berbeda supaya Anda tidak menjadi 'malas' untuk membersihkan titik yang lainnya. Jika Anda memulai di titik yang sama, Anda cenderung semangat di titik tersebut, kemudian malas membersihkan di titik yang terakhir," jelas Price.

7. Melewatkan Bagian Dalam Gigi
Kebanyakan orang ternyata sering kali lupa membersihkan bagian dalam gigi, bagian yang bersentuhan dengan lidah. Plak yang tersembunyi sama pentingnya untuk dibersihkan seperti plak yang terlihat. Titik yang paling sering dilupakan untuk dibersihkan adalah pada bagian dalam gigi depan.

8. Kurang Bersih Membilas
Bakteri bisa tumbuh pada sikat gigi yang lupa dibersihkan. Jika ini terjadi, bakteri tersebut bisa tumbuh dan kembali hinggap pada mulut Anda di sesi penyikatan berikutnya. Bersihkan sikat gigi setelah Anda menggunakannya dan pastikan tak ada yang menyangkut atau pasta gigi yang tersisa.

9. Membiarkan Sikat Gigi dalam Keadaan Basah
Anda pasti sudah tahu bahwa bakteri senang hidup dalam kondisi lembab. Sikat gigi yang basah dan lembab pun akan menjadi tempat favorit bakteri. Tak hanya itu, sikat gigi yang lembab akan merusak bulu sikatnya jika dibiarkan begitu saja. Akan lebih baik jika sikat gigi disimpan tertutup dalam keadaan kering. Biarkan kering, baru tutup dengan tutupnya.

10. Tidak Mengganti Sikat Gigi Cukup Sering
ADA merekomendasikan untuk mengganti sikat gigi setelah 3-4 bulan pemakaian atau langsung ganti ketika bulu sikatnya terlihat mulai rusak. Ketimbang Anda mematok waktu, perhatikan sikat gigi Anda. Saat ini sudah ada sikat gigi yang bulunya diberikan penanda warna. Saat warna memudar, maka sudah waktunya sikat tersebut diganti. Atau ketika Anda menemukan sudah ada bulu sikat gigi yang rontok, atau fleksibilitasnya mulai berkurang, segera ganti.

sumber: KOMPAS

5 Kesalahan Saat Menyikat Gigi

Keliru bila Anda menganggap bila sudah menyikat dengan kuat maka hasilnya akan semakin bersih.
Menyikat gigi dua kali sehari sudah menjadi satu kegiatan yang Anda lakukan secara otomatis. Namun, apakah tindakan ini sudah cukup untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut? Coba periksa apakah sejauh ini Anda sudah melakukan ritual menggosok gigi dengan teknik yang benar. Menurut ahli, ada lima jenis kesalahan yang paling sering dilakukan saat menggosok gigi. Silakan baca untuk menemukan apakah Anda melakukan salah satu di antaranya.

1. Kurang lama menyikat gigi
Menurut para dokter gigi, kesalahan nomor satu yang paling sering dilakukan orang saat menggosok gigi adalah durasinya. "Agar dapat membersihkan gigi secara menyeluruh, Anda butuh waktu sekitar dua menit," kata drg Jacki Blatz dari Dentique Dental Hygiene Centre, Alberta. Bila Anda sering melakukannya kurang dari dua menit, risiko timbunan plak akan semakin besar.

Studi yang dilakukan oleh Newcastle University's School of Dental Science di Inggris memperlihatkan dua per tiga dari penderita gangguan gusi memiliki kebiasaan menggosok gigi kurang dari dua menit -bahkan setelah dokter giginya menganjurkan mereka untuk melakukan hal itu. Karenanya, cobalah mematuhi kebiasaan ini dengan menggosok gigi sambil melihat ke arah jam.

2. Tidak membersihkan hingga ke sudut gigi
Idealnya, Anda perlu menggosok semua area gigi, mulai dari luar, dalam, hingga ke gusi, lidah, dan langit-langit mulut. Namun, seringkali Anda tidak membersihkan hingga ke dalam dan melupakan sudut-sudut tersembunyi karena memang sulit dijangkau. "Hal ini diakibatkan Anda menganggap kegiatan sikat gigi bukanlah kegiatan yang serius, sehingga yang dipikirkan hanya menggosok dan asal bersih," kata Blatz.
Sebaiknya, selalu beri perhatian penuh saat melakukannya, dengan mengingat bagian-bagian mana yang belum disikat. Dengan begitu, seluruh bagian gigi akan bersih sempurna.

3. Menyikat terlalu kuat
Gusi Anda kerap berdarah saat menyikat gigi? Mungkin saja ini bukan semata-mata salah sikat giginya, melainkan karena Anda menekannya terlalu kuat. Menurut Blatz, adalah keliru bila Anda menganggap bila sudah menyikat dengan kuat maka hasilnya akan semakin bersih. Yang jelas, gerakan seperti ini malah bisa melukai gusi. Bahkan, gigi Anda bisa menjadi sensitif karenanya. Jadi, untuk hasil yang lebih baik, pilih sikat gigi dengan bulu yang lembut dan bisa bergerak fleksibel di sela-sela gigi, ditambah dengan memperbaiki gerakan sikat gigi Anda.

4. Gerakan menyikat yang keliru
Jika Anda menggosok gigi hanya dengan gerakan menyamping dari gigi belakang ke depan, itu belum cukup. Sebab, menurut pakar gigi, hal ini belum dapat membersihkan seluruh bagian gigi. "Lebih baik berkonsentrasilah pada satu area kecil, lalu sikat dengan gerakan memutar. Setelah itu baru pindah ke area lainnya dan lakukan dengan gerakan yang sama. Sementara pada saat sampai di area dekat gusi, arahkan bulu sikat dengan kemiringan 45 derajat, lalu sikat ke arah luar gusi," anjur Blatz.

5. Memakai pasta gigi terlalu banyak
Sebenarnya, tidak masalah berapa banyak pasta gigi yang Anda pakai untuk sekali sikat gigi. Hanya saja, ini berarti Anda tidak akan dapat menyikat gigi cukup lama sesuai dengan waktu yang dianjurkan, karena mulut Anda akan penuh busa dan terasa tidak nyaman. Menurut  Blatz, sebenarnya yang banyaknya pasta gigi Anda butuhkan hanyalah sepanjang 1 cm.
"Untuk anak-anak, ukurannya lebih sedikit lagi," katanya. Selebihnya, gerakan menggosok gigi dan durasinya yang akan pegang peranan.

sumber: KOMPAS

Efektifkah Cara Menyikat Gigi Anda?

Namun para ahli memiliki pandangan lain tentang cara menyikat gigi yang benar. Mereka berpendapat, proses menyikat yang baik gigi harus dilakukan paling tidak selama 2 menit.
Menyikat gigi tidak hanya berguna untuk menjaga kebersihan, tetapi juga kesehatan mulut dan gigi. Menggosok gigi secara tidak tertatur dan tidak layak dapat menyebabkan bau mulut, karies, dan penyakit periodontal (penyakit gusi).
Agar menyikat gigi menjadi efektif, ada baiknya Anda mengikuti beberapa panduan di bawah ini :
1. Arahkan sikat dengan tepat
-  Bersihkan permukaan bagian luar gigi atas, kemudian gigi bawah.
-  Bersihkan permukaan bagian dalam gigi atas, kemudian gigi bawah.
-  Bersihkan permukaan gigi yang digunakan untuk mengunyah.
-  Untuk nafas yang segar, pastikan juga untuk menyikat lidah Anda.
-  Miringkan sikat hingga 450 terhadap garis gusi dan sapukan sikat dari gari gusi.
-  Sikatlah dengan lembut setiap permukaan luar, dalam, dan bagian untuk mengunyah pada setiap gigi.
-  Sikatlah dengan lembut lidah Anda untuk menghilangkan bakteri dan menyegarkan napas.
2. Gunakan sikat yang Sesuai
Pilihlah sikat gigi yang memiliki bulu dari nilon dan berkepala kecil. Dengan menggunakan bulu dari nilon akan lebih lembut pada gusi dan lebih lentur sehingga dapat mencapai bagian antara gigi.
Kepala sikat yang kecil akan memudahkan Anda mencapai seluruh area mulut. Pastikan untuk membasahi sedikit sikat gigi Anda sebelum digunakan, agar melindungi gusi Anda dari kerobekan akibat bulu sikat yang tajam. Berikut beberapa tips untuk memilih sikat gigi yang benar:
-  Pilihlah bulu sikat yang lembut
-  Sesuaikan sikat gigi dengan ukuran mulut Anda. Jika Anda memiliki mulut yang kecil, pilihlah sikat yang lebih kecil dan jika Anda memiliki mulut yang besar, pilihlah yang lebih besar.
-  Pilihlah yang mudah untuk digunakan. Jangan pilih sikat gigi yang dapat merumitkan Anda.
3. Gunakan pasta gigi yang benar
Kondisi gigi setiap orang tentu berbeda-beda, begitu juga dengan kebutuhannya. Maka dari itu, pilihlah pasta gigi yang paling sesuai untuk Anda. Ada banyak pilihan pasta gigi di pasaran, mulai dari untuk gigi berlubang, radang gusi, karang gigi, gigi bernoda, dan gigi sensitif.
Mintalah saran dokter gigi untuk membantu Anda memilih jenis pasta gigi yang sesuai. Untuk penggunaan, cukup gunakan pasta gigi dengan ukuran seperti sebiji kacang polong.
4. Mengganti sikat gigi
Gantilah sikat gigi Anda paling tidak selama tiga bulan sekali untuk menjaga kebersihan mulut. Dan jangan lupa untuk mnegganti sikat gigi Anda setelah terkena flu, karena terkadang bulu sikat mengumpulkan bakteri yang menyebabkan Anda kembali terinfeksi.
5. Tips dan Peringatan
* Pastikan Anda untuk menyikat gigi, lidah dan gusi Anda.
* Jangan terburu-buru, menyikat gigi bermanfaat untuk jangka waktu yang lama.
* Jangan memberi tekanan berlebihan pada gigi dan gusi saat menyikat, lakukan dengan lembut.
* Cobalah teknik menyikat gigi alternatif, seperti menyikat gigi ke atas dan ke bawah, sisi ke sisi, dan juga gerakan melingkar.
* Jangan lupa untuk menyikat bagian belakang dan sekitar gigi.
* Flossing adalah tambahan efektif dalam membersihkan gigi Anda.
* Sikatlah gigi setelah bangun dan sebelum tidur.
* Jangan lupa untuk selalau menyikat gigi segera setelah makan, atau paling tidak dua kali dalam sehari. (M10-11

sumber: kompas

Cegah Kerusakan Gigi sejak Dini

Masalah gigi berlubang atau karies gigi dialami oleh hampir 89 persen anak-anak di bawah usia 12 tahun di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah kebersihan gigi yang kurang dijaga dan kegemaran mengonsumsi makanan manis dan lengket.
Menurut drg.Zaura Anggraeni, Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), rata-rata tiap penduduk memiliki empat gigi berlubang. "Berdasarkan pengalaman sehari-hari biasanya gigi berlubang itu dibiarkan sehingga membusuk. Jadi sudah terlambat saat ke dokter gigi karena infeksinya sudah dalam dan harus dicabut," kata dokter yang disapa Rini ini.
Ia menambahkan, gigi busuk bisa berpengaruh pada kesehatan tubuh keseluruhan. "Kuman-kuman yang berada di lubang gigi bisa ikut aliran darah. Bisa saja tersangkut di katup jantung, pori-pori ginjal, dan masih banyak lagi," ungkap nya.
Pada anak-anak, dijelaskan oleh Prof.drg.Eky S.Soeria Soemantri, Sp.Ortho (K), Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, infeksi pada gigi juga akan mengganggu penyerapan nutrisi.
"Gigi merupakan salah satu dari bagian sistem pencernaan. Bila ada gangguan, maka makanan tidak bisa dikunyah dengan baik sehingga lambung dan usus bekerja lebih keras. Akibatnya penyerapan nutrisi terganggu," paparnya.
Padahal, kerusakan gigi bisa dicegah. "Gigi anak sebaiknya rutin dibersihkan, kebiasaan ini harusnya dimulai pada usia dini," kata Rini. Selain itu hindari makanan bergula yang lengket dan kenyal karena akan menempel pada gigi dan membentuk asam pembusuk yang bisa merusak gigi, apalagi jika tidak disertai dengan kebiasaan menyikat gigi.
Orangtua seharusnya juga mulai mengenalkan anak pada dokter gigi. "Jangan membawa anak ke dokter gigi setelah giginya rusak karena anak akan menjadi takut untuk datang lagi. Ajaklah anak mengenal dokter gigi untuk memeriksakan giginya," saran Eky.
Bulan kesehatan gigi
Eky mengakui bahwa saat ini jumlah dokter gigi yang ada di tanah air belum seimbang. "Di Indonesia ada 21.200 orang dan 1.545 dokter gigi spesialis. "Sekitar 70 persen dokter gigi dan 90 persen dokter gigi spesialis ada di pulau Jawa," katanya.
Untuk itu PT.Unilever Indonesia bekerjasama dengan PDGI dan juga Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia kembali mengadakan Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2011 yang akan berlangsung selama bulan September dan Oktober.
"Tahun 2010 lalu kami bekerjasama dengan 13 Fakultas Kedokteran Gigi di seluruh Indonesia dan menjangkau 20.000 pasien. Tahun ini kami ingin menambah jumlah FKG dan kotanya karena masih banyak rakyat yang perlu perawatan gigi," kata drg.Ratu Mirah Afifah, profesional relationship manager oral care PT.Unilever Indonesia.
Eky menambahkan, setiap tahunnya 60.000 pasien datang ke fakultas kedokteran gigi di seluruh Indonesia untuk melakukan perawatan gigi. "FKG adalah salah satu bagian dari sistem pelayanan kesehatan selain Puskesmas. Masyarakat bisa memanfaatkannya jika merasa tak mampu berobat ke dokter gigi," paparnya.

sumber: kompas

Perawatan Gigi Susu hingga Gigi Permanen





Kompas.com - Lebih dari 80 persen anak usia di bawah 12 tahun menderita gigi berlubang. Penyebab utamanya adalah karena kebersihan gigi yang kurang terjaga dengan baik. Merawat gigi dengan benar bukan hanya membuang bakteri dan plak, tetapi juga menyingkirkan semua masalah gigi.

Orangtua adalah kunci utama kesehatan gigi anak. Meski gigi susu akan digantikan oleh gigi permanen tetapi kondisi kesehatan gigi susu sangat berpengaruh pada kondisi dan kelancaran pertumbuhan gigi kelak. Berikut adalah jadwal pemeriksaan gigi yang direkomendasikan para ahli kesehatan gigi, mulai dari bayi hingga dewasa. Bayi
"Sejak bayi lahir, orangtua seharusnya mulai memerhatikan kesehatan gigi buah hatinya karena tanpa disadari pola makan bayi sudah mengandung gula yang tinggi," kata Dr. Janet Clarke, dokter gigi anak dan juru bicara the British Dental Association.
Ia menyarankan agar orangtua mengajak anaknya ketika mereka melakukan pemeriksan gigi rutin agar anak menjadi terbiasa dengan dokter gigi. Saat ini pun cukup banyak klinik gigi khusus anak dengan suasana ruang praktek yang menyenangkan.
"Pengalaman positif yang dimiliki anak tentang dokter gigi akan berpengaruh pada cara mereka merawat gigi dan kunjungan ke dokter gigi sepanjang hidup mereka," katanya.
Usia balita
Kunjungan ke dokter gigi di masa bayi hingga balita akan lebih banyak difokuskan pada menghitung jumlah gigi. "Kita perlu mengetahui apakah gigi anak terlambat tumbuh atau tidak," kata Dr Reza Hejazi, ahli bedah gigi dari London.
Pada usia balita, orangtua harus memastikan anak menyikat giginya dua kali sehari dengan pasta gigi yang mengandung fluoride. "Di usia ini anak-anak sebaiknya diperiksa giginya setidaknya setahun sekali. Jika ada kerusakan pada giginya, maka ia harus datang setiap 6 bulan sekali," katanya.
Usia sekolah dasar Di usia 6 tahun pada umumnya anak-anak mulai kehilangan gigi susunya dan digantikan oleh gigi permanen. Idealnya, mereka sudah mampu menyikat giginya tanpa bantuan orangtua.
Ajari anak untuk membatasi makanan yang lengket pada gigi yang bisa membuat gigi cepat lapuk. Pertahanan terbaik pada gigi adalah menyikat gigi setelah mengonsumsi makanan manis dan lengket, atau minimal berkumur.
Usia pra remaja
Gigi berlubang merupakan masalah utama pada kesehatan gigi pra remaja dan usia remaja. Lakukan perawatan segera agar kerusakannya tetap minimal dan gigi anak tidak perlu dicabut.
Usia remaja merupakan waktu yang tepat untuk melakukan koreksi jika susunan gigi anak kurang rapi. "Sebaiknya ditunggu sampai seluruh gigi permanen anak tumbuh agar dokter bisa menentukan tindakan yang tepat," kata Dr.Clarke.

sumber: kompas